Asal mula nama-nama Wuku dalam tradisi Bali dan Jawa kuno berakar pada sebuah legenda besar tentang Prabu Watugunung. Cerita ini tertuang dalam berbagai naskah lontar, salah satunya adalah Lontar Pawukon.
Penting untuk dipahami bahwa nama Wuku (Sinta, Landep, dst.) sebenarnya diambil dari nama-nama anak dan istri Prabu Watugunung, sedangkan para Dewa diposisikan sebagai "Pangemit" atau pelindung/penguasa waktu tersebut untuk menyeimbangkan energi alam semesta.
Dahulu kala di Kerajaan Gilingwesi, bertahtalah seorang raja yang sangat sakti bernama Prabu Watugunung. Singkat cerita, terjadi sebuah tragedi keluarga (inkes) di mana Watugunung secara tidak sengaja menikahi ibunya sendiri yang bernama Dewi Sinta.
Dari pernikahan tersebut, lahirlah 27 orang putra. Nama-nama putra inilah yang kemudian menjadi nama Wuku (mulai dari Landep hingga Ugu). Jika ditambah dengan nama ibunya (Sinta) dan ayahnya (Watugunung), serta satu tambahan (Wuku Wayang/Kulawu dalam beberapa versi), maka genaplah menjadi 30 Wuku.
Ketika rahasia bahwa Sinta adalah ibu kandung Watugunung terungkap, Sinta merasa sangat malu dan berdosa. Ia kemudian meminta Watugunung untuk melamar Dewi Sri di surga sebagai cara halus agar Watugunung binasa di tangan para dewa (karena tidak mungkin manusia menikahi dewi).
Terjadilah peperangan besar antara Watugunung dan para Dewa. Akhirnya, Watugunung berhasil dikalahkan oleh Bhatara Wisnu. Namun, karena kesaktian dan pengabdiannya di masa lalu, Watugunung dan seluruh keluarganya diberikan tempat di langit/angkasa dalam bentuk siklus waktu.
Agar siklus waktu 210 hari (30 Wuku) ini berjalan selaras dan tidak membawa bencana bagi umat manusia, maka Dewata Nawa Sanga dan dewa-dewa lainnya ditugaskan untuk mengawasi atau menjadi "Manifestasi Tuhan" pada setiap Wuku tersebut
Dalam sistem Wariga di Bali, Wuku adalah siklus tujuh harian yang berjumlah 30 unit dalam satu siklus Pawukon (total 210 hari). Setiap Wuku memiliki dewa pelindung (Bhatara) yang memberikan karakter, pengaruh, dan filosofi tertentu terhadap waktu tersebut maupun sifat seseorang yang lahir pada Wuku tersebut.
Secara teknis, pembagiannya adalah sebagai berikut :
Contoh Penempatan Dewa :
Berikut adalah daftar lengkap 30 Wuku beserta Dewa penguasanya dan makna filosofisnya :
| No | Nama Wuku | Dewa Penguasa | Makna dan Karakteristik |
| 1 | Sinta | Bhatara Yamadipati | Simbol awal kehidupan. Tegas, jujur, namun penuh kasih sayang. |
| 2 | Landep | Bhatara Mahadewa | Simbol ketajaman pikiran dan kecerdasan. Berhubungan dengan benda tajam/senjata (Pasupati). |
| 3 | Ukir | Bhatara Mahajaya | Melambangkan gunung atau ketinggian. Berwibawa, tenang, dan memiliki pandangan luas. |
| 4 | Kulantir | Bhatara Mahadewa | Cekatan, memiliki semangat tinggi, dan teguh pada pendirian. |
| 5 | Tolu | Bhatara Bayu | Melambangkan angin. Aktif, dinamis, sulit ditebak, namun memberi nafas kehidupan. |
| 6 | Gumbreg | Bhatara Candra | Lembut, tenang, penuh empati, dan sering menjadi peneduh bagi orang lain. |
| 7 | Wariga | Bhatara Asmara | Berhubungan dengan keindahan, cinta, dan kesuburan tumbuhan. Pandai memikat hati. |
| 8 | Warigadean | Bhatara Maharesi | Memiliki pengetahuan yang luas, bijaksana, dan cenderung spiritual. |
| 9 | Julungwangi | Bhatara Sambhu | Melambangkan harumnya nama baik. Beruntung dan memiliki aura yang memikat. |
| 10 | Sungsang | Bhatara Gana | Pelindung dari rintangan. Kuat, gigih, dan mampu menyelesaikan masalah sulit. |
| 11 | Dungulan | Bhatara Kamajaya | Hari kemenangan Dharma melawan Adharma (Galungan). Penuh kasih dan kesetiaan. |
| 12 | Kuningan | Bhatara Indra | Melambangkan kejayaan dan kemakmuran. Berjiwa pemimpin dan pemberani. |
| 13 | Langkir | Bhatara Kala | Memiliki potensi kekuatan besar namun harus dikendalikan agar tidak menjadi amarah. |
| 14 | Medangsia | Bhatara Brahma | Semangat yang membara, kreatif, dan memiliki daya cipta yang tinggi. |
| 15 | Pujut | Bhatara Gurupadu | Berwibawa, dihormati, dan sering menjadi tempat bertanya (guru). |
| 16 | Pahang | Bhatara Tantular | Simbol keteguhan hati. Tidak mudah goyah oleh pengaruh luar. |
| 17 | Krulut | Bhatara Wisnu | Melambangkan kerukunan, persahabatan, dan kasih sayang yang mendalam. |
| 18 | Meratih | Bhatara Kuwera | Berhubungan dengan kemakmuran materi dan keberuntungan finansial. |
| 19 | Lawir | Bhatara Yamadipati | Tegas dalam aturan, disiplin, dan menghargai waktu. |
| 20 | Tambir | Bhatara Siwa | Simbol kesucian dan peleburan. Memiliki sisi spiritual yang kuat. |
| 21 | Medangkungan | Bhatara Basuki | Melambangkan keselamatan dan perlindungan. Murah hati dan penyabar. |
| 22 | Matal | Bhatara Sakri | Kuat secara fisik maupun mental. Gigih dalam mencapai cita-cita. |
| 23 | Uye | Bhatara Kuweri | Berhubungan dengan kelestarian alam binatang. Teliti dan penuh perhitungan. |
| 24 | Menail | Bhatara Citragotra | Pandai berdiplomasi, pandai bicara, dan memiliki taktik yang baik. |
| 25 | Prangbakat | Bhatara Brahma | Berani mengambil risiko, berjiwa ksatria, dan pantang menyerah. |
| 26 | Bala | Bhatara Durga | Memiliki kekuatan proteksi yang besar. Berani menghadapi bahaya. |
| 27 | Ugu | Bhatara Singajalma | Berwibawa seperti singa, ditakuti musuh, namun melindungi yang lemah. |
| 28 | Wayang | Bhatara Sri | Melambangkan seni, estetika, dan kemakmuran pangan. Kreatif. |
| 29 | Kulawu | Bhatara Sadana | Dewa uang/harta. Fokus pada kesejahteraan materi dan kemapanan. |
| 30 | Watugunung | Bhatara Anantaboga | Penutup siklus. Melambangkan ilmu pengetahuan yang tak terbatas (Saraswati). |
Dalam tradisi Bali, memahami dewa penguasa Wuku membantu seseorang untuk :
Dalam kosmologi Bali, keberadaan Dewa sebagai "Penetralisir" atau pelindung Wuku tidak serta-merta menghapus sifat dasar (watak) Wuku tersebut.
Berikut adalah penjelasan mengapa sifat "buruk" atau keras masih muncul meskipun sudah ada Dewa pelindungnya :
Bayangkan Wuku adalah sebuah wadah atau kendaraan, sedangkan Dewa adalah sopir atau pemandunya.
Contoh :
Seseorang lahir dengan membawa "wadah" (Wuku) tertentu. Jika wadahnya adalah Watugunung, maka secara alami energinya adalah energi "puncak" yang keras, kokoh dan dominan (seperti gunung batu). Dewa ;Anantaboga hadir bukan untuk menghilangkan gunung tersebut, melainkan untuk memberikan petunjuk bagaimana cara mengelola energi yang Kuat tersebut agar menjadi kekuatan yang positif.
Secara etimologi, Watu berarti Batu dan Gunung berarti Gunung. Ini adalah simbol material yang paling padat, berat, dan tidak tergoyahkan.
Dewa yang menaungi Watugunung adalah Bhatara Anantaboga (Naga Keabadian yang menopang bumi). Mengapa naga?
Dalam keyakinan Bali, tidak ada sifat yang murni "buruk". Yang ada adalah sifat yang "belum seimbang".
Dewa pelindung memberikan cetak biru (blueprint) tentang bagaimana mengubah energi kasar tersebut menjadi energi halus. Namun, keputusan untuk mengikuti jalur Dewa (Dharma) atau tetap dalam ego Wuku (Adharma) kembali pada Karma Wasana masing-masing individu.
Inilah alasan mengapa dalam tradisi Bali ada upacara Manusia Yadnya (seperti Otonan). Tujuannya adalah :
Analogi : Seperti memiliki bakat mesin mobil yang sangat kencang (Wuku yang keras). Jika tidak belajar cara mengerem (Dewa), mobil itu akan menabrak. Upacara dan pemahaman Wariga adalah cara kita "belajar menyetir" diri sendiri.
Sifat dasar yang "buruk" tetap ada karena itu adalah bekal ujian (Karma Wasana) seseorang di dunia ini. Dewa pelindung tidak berfungsi menghapus ujian tersebut, melainkan memberikan "kunci jawaban" untuk lulus dari ujian watak tersebut.
Berikut adalah indeks watak 30 Wuku dalam tradisi Wariga Bali. Penting untuk diingat bahwa "Dewa" adalah frekuensi ideal, sedangkan "Wuku" adalah kecenderungan sifat manusiawi.
Indeks Watak Wuku dan Cara Menetralisirnya
| No | Wuku | Watak Baik (+) | Watak Buruk (-) | Cara Menetralisir (Pangupaya) |
| 1 | Sinta | Berwibawa, terbuka. | Angkuh, mudah tersinggung. | Meditasi ketenangan (Yamadipati). |
| 2 | Landep | Cerdas, tajam analisis. | Bicara tajam, sombong. | Mengasah batin (Pasupati Jnana). |
| 3 | Ukir | Murah rezeki, tenang. | Agak tertutup, lambat. | Melatih kemasyarakatan (sosialisasi). |
| 4 | Kulantir | Tegas, jujur. | Keras kepala, kaku. | Belajar fleksibilitas (mendengar saran). |
| 5 | Tolu | Cekatan, adaptif. | Tidak tetap pendirian. | Fokus pada satu tujuan (dharma). |
| 6 | Gumbreg | Penyayang, lembut. | Kurang tegas, ragu-ragu. | Melatih keberanian mengambil risiko. |
| 7 | Wariga | Menarik, pandai bergaul. | Kurang konsisten, genit. | Menjaga kesucian pikiran (Asmara). |
| 8 | Warigadean | Cerdas, skeptis (logis). | Suka mendebat, egois. | Mempelajari sastra agama (Maharesi). |
| 9 | Julungwangi | Populer, beruntung. | Suka dipuji, boros. | Belajar rendah hati (mulat sarira). |
| 10 | Sungsang | Bersemangat, berani. | Emosional, meledak-ledak. | Melatih napas dan kontrol emosi. |
| 11 | Dungulan | Jiwa pemenang, setia. | Suka pamer, ambisius. | Berbagi kebahagiaan (Dana Punya). |
| 12 | Kuningan | Makmur, berwibawa. | Terlalu hemat (pelit). | Belajar tulus ikhlas (Yadnya). |
| 13 | Langkir | Kuat fisik, gigih. | Mudah amuk (energi Kala). | Pengendalian diri melalui mantram. |
| 14 | Medangsia | Kreatif, imajinatif. | Sering melamun, malas. | Disiplin waktu dan aksi nyata. |
| 15 | Pujut | Bijaksana, disegani. | Suka memerintah (bossy). | Belajar menjadi pelayan (Seva). |
| 16 | Pahang | Berpendirian kuat. | Sangat keras kepala. | Melatih empati terhadap orang lain. |
| 17 | Krulut | Menyenangkan, romantis. | Mudah kecewa, baperan. | Menguatkan mental (kemandirian). |
| 18 | Meratih | Teratur, rapi. | Terlalu perfeksionis. | Belajar menerima kekurangan. |
| 19 | Lawir | Disiplin tinggi. | Kaku dalam aturan, dingin. | Menambah humor dan keramahan. |
| 20 | Tambir | Dekat dengan spiritual. | Eksklusif, anti-sosial. | Berbaur dengan masyarakat umum. |
| 21 | Medangkungan | Suka menolong. | Mudah dimanfaatkan orang. | Belajar berkata "tidak" (ketegasan). |
| 22 | Matal | Fisik kuat, tangguh. | Kurang perhitungan (nekat). | Perencanaan sebelum bertindak. |
| 23 | Uye | Teliti, hemat. | Khawatir berlebihan (cemas). | Menumbuhkan rasa syukur. |
| 24 | Menail | Diplomatis, pandai. | Manipulatif, licik. | Mengutamakan kejujuran. |
| 25 | Prangbakat | Berani, ksatria. | Suka konflik/berdebat. | Menyalurkan energi ke olahraga/seni. |
| 26 | Bala | Pelindung, loyal. | Suka curiga (parno). | Membangun kepercayaan pada sesama. |
| 27 | Ugu | Karismatik, tenang. | Meremehkan orang lain. | Menghargai setiap perbedaan. |
| 28 | Wayang | Artistik, halus. | Rentan gangguan mistis. | Ruwatan Sapuh Leger & sembahyang. |
| 29 | Kulawu | Pandai cari uang. | Sangat materialistik. | Menyeimbangkan harta dan rohani. |
| 30 | Watugunung | Integritas tinggi. | Sangat kaku, pemarah. | Belajar ilmu pengetahuan (Saraswati). |
Dalam ajaran Usada dan Wariga, ada tiga cara utama untuk menghaluskan getaran (vibrasi) buruk dari Wuku kelahiran :