Memulai usaha (bisnis) baru dengan Dewasa Ayu dalam tradisi Kalender Wariga Bali tidak hanya soal modal materi, tetapi juga soal Ngerereh Taksu (mencari energi keberhasilan).
Pelangkiran Taksu di tempat usaha berfungsi sebagai stana atau tempat pemujaan manifestasi Tuhan sebagai pemberi kemahiran, kharisma, dan kelancaran dalam berdagang / berbisnis.
Dalam Wariga, pilihlah hari yang memiliki unsur keberuntungan (Laba) dan kemakmuran (Amerta).
Laba Berana : Hari yang sangat baik untuk memulai perdagangan atau usaha karena diyakini mendatangkan keuntungan.
Melaba : Hari khusus untuk berdagang.
Soma Ribek (Senin Pon Sinta) : Hari di mana makanan dan kemakmuran melimpah. Sangat baik untuk memulai usaha kuliner atau kebutuhan pokok.
Budha Rumeksa : Hari yang baik untuk menjaga dan mengelola keuangan agar tidak boros.
Kala Katemu : Baik untuk bertemu pelanggan atau menjalin kerja sama bisnis.
Hari yang Dihindari : Kala Rau, Geni Rawana (panas/risiko konflik), dan Dina Carik (hari yang dianggap "putus" atau macet).
Pelangkiran Taksu biasanya dipasang di sudut Kaja-Kangin (Timur Laut) dari toko, kantor, atau tempat usaha anda.
Pejati (1 tanding) : Sebagai saksi utama kehadapan Sang Hyang Widhi.
Sodaan / Ajuman (1 tanding) : Sebagai persembahan rasa syukur.
Banten Pasupati (Kecil) : Jika di dalam pelangkiran diletakkan benda simbolis (seperti uang kepeng, arca, dan sejenisnya).
Canang Sari & Dupa.
Tirta Pembersihan : Dimohonkan dari Sanggah Kemulan dan Taksu di Merajan.
Segehan Putih Kuning (2 tanding) : Diletakkan di bawah (lantai) untuk keharmonisan energi lingkungan.
Pembersihan : Bersihkan area tempat usaha dan pelangkiran baru dengan air yang dicampur bunga (air suci).
Pemasangan : Pasang pelangkiran di tempat yang tinggi (di atas kepala). Berikan alas kain putih atau kuning.
Menghaturkan Banten : Letakkan Pejati dan Sodaan di atas pelangkiran.
Mepiuning : Nyalakan dupa, lalu sampaikan maksud anda untuk mulai membuka usaha dan memohon agar Ida Betara berkenan menempati stana tersebut sebagai Taksu Dagang.
Metirta : Percikkan tirta ke pelangkiran dan ke seluruh area tempat usaha (pintu masuk, barang dagangan, meja kasir).
Mulai Beraktivitas : Setelah upacara selesai, barulah lakukan transaksi pertama.
A. Mantra Menghaturkan Dupa
Om Ang Brahma-dipata ya namah, Om Ung Wisnu-dipata ya namah, Om Mang Iswara-dipata ya namah
B. Mantra Pemujaan Taksu (Saat Menghaturkan Pejati)
Ucapkan dalam hati atau lisan dengan fokus:
Om Sang Hyang Paramakawi, titiang ngaturang bhakti ring ayun Iratu. Mogi Iratu lila nagingin pelangkiran niki pinaka Taksu. Memancarkan sinar suci, ngeratengang (menarik) rejeki, ngicenin kelancaran, lan kerahayu ring genah usaha titiange. Om Sidhirastu Tad Astu Swaha
C. Mantra Pasupati (Jika ada benda di Taksu)
Om Sang Hyang Pasupati Ung Phat, Om Brahma Pasupataye Namah, Om Wisnu Pasupataye Namah, Om Rudra Pasupataye Namah, Om Sang Hyang Pasupati Ang Ung Mang Ya Namah Swaha
Agar Taksu usaha tetap hidup dan kuat, lakukan hal berikut secara konsisten:
Mebanten Harian : Minimal haturkan Canang Sari dan dupa setiap pagi sebelum memulai transaksi.
Etika Berdagang : Bersikap ramah, jujur, dan bersih. Taksu sangat menyukai tempat yang rapi dan vibrasi yang positif.
Punpunan : Secara rutin (misalnya setiap Purnama/Tilem), ganti kain alas pelangkiran jika sudah kusam.
‹ Kembali