Mengapa Rerahinan didasarkan pada Wewaran, Wuku dan Sasih ?

Dalam tradisi Hindu di Bali, penetapan hari suci atau Rerahinan ditentukan melalui perhitungan kalender yang sangat presisi, yang disebut dengan Wariga. Perhitungan ini bertujuan untuk mencari keselarasan antara mikrokosmos (manusia) dan makrokosmos (alam semesta).

Berikut adalah penjelasan mengapa Rerahinan didasarkan pada tiga pilar utama: Wewaran, Wuku, dan Sasih.

1. Rerahinan Berdasarkan Wewaran

Wewaran adalah perhitungan hari berdasarkan siklus harian, mulai dari Eka Wara (siklus 1 hari) hingga Dasa Wara (siklus 10 hari). Rerahinan ini biasanya bersifat rutin dalam jangka waktu pendek.

Mengapa Wewaran? Wewaran mencerminkan sifat atau "energi" harian yang memengaruhi watak manusia dan alam.

Contoh Rerahinan:

2. Rerahinan Berdasarkan Wuku (Siklus Pawukon)

Satu siklus Wuku terdiri dari 30 Wuku, di mana masing-masing Wuku berlangsung selama 7 hari. Total satu siklus Pawukon adalah 210 hari.

Mengapa Wuku? Perhitungan ini lebih berfokus pada manifestasi energi Tuhan dalam berbagai bentuk sepanjang tahun Pawukon. Rerahinan berdasarkan Wuku biasanya memiliki perayaan yang cukup besar karena dianggap sebagai "hari ulang tahun" spiritual atau pertemuan energi tertentu.

Contoh Rerahinan :

3. Rerahinan Berdasarkan Sasih (Siklus Saka)

Perhitungan Sasih didasarkan pada orbit bulan terhadap bumi (lunisolar). Satu tahun Saka terdiri dari 12 Sasih (bulan).

Mengapa Sasih? Sasih berkaitan erat dengan posisi benda langit (Matahari dan Bulan) yang memengaruhi fenomena alam di bumi, seperti pasang surut air laut dan kesuburan tanah. Rerahinan Sasih biasanya berkaitan dengan pembersihan alam semesta secara makro.

Contoh Rerahinan:

Dasar Perhitungan Siklus Waktu Fokus Utama Contoh Hari Suci
Wewaran 1 - 10 Hari Energi harian & keseimbangan lokal Kajeng Kliwon, Anggara Kasih
Wuku 210 Hari Manifestasi Dewata & spiritualitas Galungan, Saraswati, Pagerwesi
Sasih ~354 Hari Siklus alam semesta & astronomi Nyepi, Siwaratri, Purnama

Ketiga elemen ini sering kali bertemu (beririsan) untuk menciptakan hari yang sangat istimewa, seperti Piodalan di sebuah Pura. Misalnya, sebuah Pura bisa saja memiliki hari Piodalan pada Wraspati Kliwon Wuku Menail (berdasarkan Wuku) atau pada Purnama Kedasa (berdasarkan Sasih).

Sistem ini memastikan bahwa kehidupan masyarakat Bali selalu bergerak selaras dengan ritme alam, baik secara harian (Wewaran), periodik (Wuku), maupun tahunan (Sasih).

Pendekatan ilmiah terhadap Wariga tidak melihatnya sekadar sebagai mitos, melainkan sebagai sebuah sistem Sinkronisasi Kosmik— sebuah prototipe "Data Science" kuno yang dirancang untuk menjaga ritme hidup manusia agar tetap selaras dengan alam semesta (makrokosmos).

Berikut adalah  penalaran ilmiah mengapa Wariga sangat penting bagi Rerahinan dan efek logis jika kita mengabaikannya.

1. Dasar Ilmiah : Kronobiologi dan Siklus Lunar

Secara ilmiah, tubuh manusia sangat dipengaruhi oleh Ritme Sirkadian (siklus 24 jam) dan Ritme Sirkalunar (siklus bulan).

2. Efek Frekuensi dan Vibrasi Sosial

Jika dilihat dari sudut pandang fisika, Wariga adalah sistem pengaturan frekuensi kehidupan.

3. Dampak Jika Tidak Mengikuti Aturan Wariga (Logika Konsekuensi)

Jika kita mengabaikan aturan Wariga/Padewasan, efek yang muncul bukan sekadar "kutukan", melainkan Desinkronisasi Alamiah :

A. Desinkronisasi Biologis (Stress & Kelelahan)

Tanpa jadwal Rerahinan yang diatur Wariga, manusia cenderung bekerja secara linear (tanpa henti). Sistem Wariga memaksa kita melakukan "jeda suci". Tanpa jeda ini, tubuh kehilangan ritme istirahat biologisnya, meningkatkan kadar kortisol (hormon stres), dan menurunkan imunitas.

B. Kegagalan Ekologis

Dalam pertanian atau pembangunan, mengabaikan Wariga (seperti Tumpek Wariga) berarti mengabaikan "jadwal alam".

Contoh : Menebang pohon atau menanam di hari yang salah menurut Wariga seringkali bertepatan dengan masa aktif hama tertentu atau kondisi tanah yang tidak stabil secara geofisika. Akibatnya adalah gagal panen atau kerusakan lingkungan.

C. Entropi Psikologis (Kehilangan Fokus)

Secara ilmiah, ritual adalah cara otak melakukan coding ulang terhadap niat dan tujuan. Tanpa mengikuti Rerahinan yang terstruktur, pikiran manusia masuk ke dalam keadaan Entropi — ketidakteraturan informasi. Rerahinan memberikan struktur pada waktu yang abstrak, sehingga hidup terasa lebih terarah dan bermakna.

Tabel Konsekuensi

Aspek Jika Mengikuti Wariga (Sinkron) Jika Mengabaikan Wariga (Desinkron)
Psikologis Emosi stabil karena mengikuti ritme bulan. Fluktuasi emosi yang tidak terjelaskan.
Produktivitas Efisiensi tinggi karena bekerja di "hari baik". Usaha maksimal dengan hasil minimal (salah waktu).
Sosial Harmoni kolektif (getaran frekuensi sama). Individualisme dan kerenggangan sosial.
Ekologi Kelestarian karena mengikuti musim alam. Kerusakan lingkungan (eksploitasi tanpa jeda).

Sebagai penutup, Wariga adalah teknologi spiritual untuk memastikan manusia tidak menjadi "sel kanker" bagi alam semesta, melainkan menjadi bagian dari sel yang bekerja harmonis.

‹ Kembali