Tenung, Diagnosa dan Pengobatan Penyakit Berbasis Wariga
Naskah-naskah lontar seperti Usada Gede, Usada Tenung Tanya Lara, dan Usada Siddhi menjadi korpus utama yang mendokumentasikan pengetahuan ini. Usada Gede, misalnya, secara eksplisit menyatakan bahwa tubuh manusia adalah replika dari alam semesta. Segala fenomena yang terjadi di langit dan bumi memiliki korespondensi langsung dengan organ dan fisiologi manusia. Oleh karena itu, diagnosa dalam Usada tidak pernah berdiri sendiri sebagai observasi patologis semata, melainkan selalu dikaitkan dengan konteks waktu (Wariga) dan tanda-tanda alam (Tetenger).
Salah satu konsep fundamental yang membedakan Usada di Bali dari kedokteran biomedis modern adalah pengakuan terhadap dua alam realitas yang saling berinteraksi : Sekala (alam nyata/fisik) dan Niskala (alam tak nyata/metafisik). Seorang penyembuh tradisional atau Balian dituntut untuk memiliki kompetensi ganda dalam menavigasi kedua alam ini.
Penyakit Sekala adalah gangguan yang disebabkan oleh faktor-faktor fisik yang dapat diamati secara empiris, seperti perubahan cuaca, pola makan yang buruk, kecelakaan fisik, atau faktor usia. Pengobatannya cenderung menggunakan pendekatan Tamba (herbal) yang bersifat farmakologis, dengan prinsip hot-cold (panas-dingin) untuk menetralkan suhu tubuh. Misalnya, penyakit yang bersifat "panas" (demam, radang) akan diobati dengan tanaman yang bersifat "dingin" seperti dadap atau air kelapa muda.
Sebaliknya, penyakit Niskala adalah gangguan yang bersumber dari faktor supranatural. Etiologi penyakit ini sangat beragam, mulai dari Kepastu (kutukan leluhur), Bebai (serangan roh buatan), Cetik (racun magis), hingga Pemali (pelanggaran pantangan sakral). Dalam kasus penyakit Niskala, gejala fisik hanyalah manifestasi permukaan dari gangguan energi yang lebih dalam. Tanpa menangani akar masalah spiritualnya — melalui ritual Mecaru (korban suci) atau Penebusan — pengobatan fisik tidak akan memberikan kesembuhan permanen.
Peran Balian sebagai Mediator Tiga Dunia
Balian memegang peran sentral sebagai mediator antara pasien dengan sumber penyakit, baik itu bersifat medis maupun magis. Berdasarkan sumber kekuatannya, Balian dikategorikan menjadi beberapa tipe utama :
- Balian Ketakson :
Penyembuh yang mendapatkan kemampuannya melalui perantara roh atau dewa yang masuk ke dalam tubuhnya (trance). Diagnosa mereka bersifat intuitif dan seringkali melibatkan dialog langsung dengan entitas gaib yang menyebabkan penyakit.
- Balian Usada/Apustaka :
Penyembuh yang mempelajari ilmu pengobatan melalui naskah-naskah lontar. Mereka menggunakan logika, perhitungan kalender (Wariga), dan pengetahuan botani yang sistematis. Pembahasan dalam artikel ini akan banyak berfokus pada metodologi Balian jenis ini, yang menggunakan data empiris dan literasi naskah.
- Balian Panengen dan Pangiwa :
Pembedaan berdasarkan aliran ilmu, di mana Panengen (kanan) berfokus pada penyembuhan (ilmu putih) dan perlindungan, sementara Pangiwa (kiri) menguasai ilmu Desti atau Leak yang seringkali diasosiasikan dengan sihir, namun dalam konteks tinggi juga merupakan jalan spiritual yang keras.
Analisis mendalam mengenai Tenung (divinasi) dan Wariga (astronomi medis) di bawah ini akan menunjukkan betapa canggihnya sistem logika yang dibangun oleh para leluhur Bali untuk memetakan penyakit.
Tenung dan Tetenger - Semiotika Diagnosa Tradisional
Diagnosa dalam tradisi Usada adalah sebuah proses semiotika — pembacaan tanda. Tanda-tanda ini bisa berupa kedutan di tubuh pasien, waktu kedatangan utusan, arah mata angin, atau bahkan mimpi. Ilmu untuk membaca tanda-tanda ini disebut Tenung. Lontar Usada Tenung Tanya Lara (secara harfiah berarti "Divinasi Bertanya Tentang Penyakit") adalah manual utama yang digunakan Balian untuk mendekode pesan-pesan tersembunyi ini.
1. Tenung Tanya Lara - Analisis Gestur dan Perilaku
Ketika seorang pasien atau utusan (duta) datang menemui Balian, momen pertemuan pertama dianggap krusial. Balian akan mengamati dengan seksama bahasa tubuh, cara duduk, dan cara bicara tamu tersebut. Gestur-gestur ini dianggap sebagai sinyal bawah sadar yang membocorkan asal-usul penyakit.
Berdasarkan Lontar Tenung dan Usadha Klungkung serta naskah Tanya Lara, berikut adalah analisis mendalam mengenai korelasi antara gestur pasien dengan diagnosa penyakit :
- Mengusap atau Memegang Rambut :
Jika pasien melakukan gestur ini, diagnosa mengarah pada gangguan pikiran atau masalah pada Siwadwara (ubun-ubun).
Rambut sebagai mahkota tubuh memiliki makna simbolis tinggi. Gerakan ini bisa menandakan serangan Bebai yang mengacaukan kesadaran atau adanya kaul leluhur yang berhubungan dengan pemotongan rambut (seperti upacara otonan) yang terabaikan.
Solusi ritualnya biasanya memerlukan Caru (persembahan) yang serba digoreng, difokuskan untuk menenangkan roh halus yang mengganggu pikiran.
- Mengusap Dagu :
Gestur ini diinterpretasikan sebagai gangguan Sambat Dhimangawangan.
Dagu menopang wajah, dan istilah "Dhimangawangan" merujuk pada roh-roh yang melayang di angkasa (awang-awang) yang merasa terpanggil atau terganggu oleh aktivitas manusia.
Sarana penetral yang disarankan adalah Caru menggunakan dua ekor ayam putih dan tumpeng sari genap. Ayam putih dipilih sebagai simbol kesucian untuk menenangkan roh gentayangan tersebut.
- Mengelus Dada atau Hati :
Tanda ini menunjukkan bahwa sumber penyakit berasal dari pekarangan rumah (Sakit Pomahan).
Dada atau hati adalah pusat perasaan, sehingga gangguan ini merefleksikan ketidaknyamanan mendalam akibat energi negatif di tempat tinggal (Karang). Hal ini mungkin disebabkan oleh "penunggu" rumah yang marah.
Ritual penyembuhannya melibatkan Caru ayam hitam dan tumpeng sari genap, dengan memohon kepada Sang Hyang Wisnu Kala untuk "mendinginkan" suasana rumah.
- Mengusap Bahu :
Secara simbolis, bahu adalah tempat memikul beban.
Jika pasien mengusap bahu, ini menandakan adanya beban Sesangi (kaul/janji spiritual) yang belum dibayar (matan utang). Janji yang terlupakan ini kini membebani kehidupan pasien dalam bentuk penyakit.
Pengobatannya tidak menggunakan obat herbal, melainkan ritual pembayaran kaul (naur sesangi) sesuai dengan apa yang pernah diucapkan.
- Mengikat Tangan ke Belakang :
Posisi atau gestur ini sangat serius karena termasuk dalam Tenung Kepatian (Tanda Kematian).
Posisi tangan terikat ke belakang menyerupai posisi mayat atau tawanan. Ini adalah sinyal bahaya ekstrem yang menunjukkan jiwa pasien sudah "tertangkap" oleh maut.
Penanganannya memerlukan ritual Penebusan jiwa yang sangat kompleks, atau dalam kasus tertentu, persiapan keluarga untuk menghadapi ajal.
- Menyentuh Lutut atau Kaki :
Kaki adalah tumpuan pada tanah. Gestur ini seringkali menandakan gangguan yang bersumber dari Ibu Pertiwi atau area dasar, seperti kuburan (Setra).
Penyebabnya mungkin karena pasien melangkah di tempat keramat tanpa izin atau melanggar etika tanah.
Solusinya adalah melakukan Caru di tanah (Pertiwi) dengan persembahan ayam brumbun (warna-warni) untuk menyeimbangkan elemen tanah.
Analisis gestur ini menunjukkan bahwa tubuh pasien secara tidak sadar "mementaskan" drama penyakitnya. Balian yang peka tidak perlu menunggu pasien bercerita; tubuh mereka sudah berbicara lebih dulu.
2. Tenung Kepatian (Tanda-Tanda Menjelang Kematian)
Bagian paling esoteris dari Tenung adalah kemampuan memprediksi kematian. Dalam masyarakat Bali, kematian yang "baik" membutuhkan persiapan spiritual. Oleh karena itu, diagnosa Tenung Kepatian bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk memberikan waktu bagi keluarga mempersiapkan ritual pelepasan.
Naskah Lontar Usadha Dalem mencatat tanda-tanda fisiologis dan perilaku yang spesifik :
- Perubahan pada Mata dan Kuku :
- Mata tampak kuning kemerahan atau sorot mata yang kehilangan fokus dan cahaya hidup (Teja). Ini menandakan elemen api (Teja) dalam tubuh mulai padam.
- Kuku tangan dan kaki berubah warna menjadi kuning pucat atau kelabu kebiruan. Bantalan kuku (nail bed) tampak kemerahan tidak wajar atau justru sangat pucat.
- Pola Pernafasan (Prana) :
- Nafas menjadi pendek, dangkal, dan terputus-putus. Dalam istilah Usada disebut "nafas yang hampir meninggalkan tubuh".
- Uji Coba Nafas : Jika pasien menghembuskan nafas ke telapak tangan Balian dan terasa "dingin" (bukan hangat seperti manusia hidup normal), ini dianggap tanda vitalitas (Prana) sudah sangat lemah.
- Relaksasi Sfingter :
- Keluarnya cairan tubuh (urine atau feses) secara tidak terkendali. Secara medis, ini adalah tanda relaksasi otot sfingter menjelang kematian klinis. Usada mencatat ini sebagai tanda fisik yang sangat akurat.
- Perubahan Perilaku Niskala :
- Pasien sering berbicara sendiri, seolah berdialog dengan orang yang sudah meninggal (leluhur). Ini ditafsirkan sebagai jiwa (roh) pasien yang sudah mulai berinteraksi dengan alam transisi.
- Mati Suri : Beberapa kasus mencatat fenomena mati suri, yang dalam tinjauan medis berbeda dengan kematian biologis, namun dalam Usada dianggap sebagai perjalanan roh sementara.
3. Tetenger Arah - Geografi Spiritual dalam Diagnosa
Arah mata angin (Pangider Bhuana) memiliki nilai teologis yang kuat. Arah dari mana utusan datang, atau arah rumah pasien relatif terhadap rumah Balian, memberikan petunjuk tentang dewa mana yang sedang "bermain" atau jenis energi apa yang dominan.
- Arah Kelod (Selatan) :
Dikuasai oleh Dewa Brahma. Elemen Api.
- Implikasi Diagnosa : Penyakit yang datang dari arah ini atau ditandai dengan utusan dari selatan cenderung bersifat "Panas" (demam tinggi, radang akut, emosi meledak-ledak). Sering juga dikaitkan dengan gangguan dari Setra (kuburan) atau Bhuta Kala yang ganas.
- Arah Kaja (Utara) :
Dikuasai oleh Dewa Wisnu. Elemen Air.
- Implikasi Diagnosa : Penyakit bersifat "Dingin" (kaku, lumpuh, bengkak berair/edema, keracunan). Penyakit ini cenderung lebih tenang namun mematikan secara perlahan.
- Arah Kangin (Timur) :
Dikuasai oleh Dewa Iswara. Elemen Udara/Suara.
- Implikasi Diagnosa : Penyakit yang menyerang saraf, sakit kepala, atau gangguan yang berpindah-pindah tempat (seperti angin).
- Arah Kauh (Barat) :
Dikuasai oleh Dewa Mahadewa. Elemen Tanah/Logam.
- Implikasi Diagnosa : Penyakit kulit, tulang, atau gangguan yang bersifat keras dan alot.
Integrasi antara gestur tubuh dan arah mata angin memungkinkan Balian membangun profil penyakit yang komprehensif sebelum menyentuh pasien sama sekali.
Etiologi Penyakit Berbasis Niskala (Kausalitas Supranatural)
Dalam sistem Usada, diagnosa seringkali bermuara pada kesimpulan bahwa penyakit fisik hanyalah gejala dari pelanggaran tatanan kosmis. Bagian ini akan menguraikan tiga penyebab utama penyakit Niskala : Pemali, Karang Angker, dan Penyakit Kiriman.
1. Pemali : Patologi Pelanggaran Sakral
Pemali adalah konsep penyakit akibat melanggar pantangan atau batas-batas kesucian. Ini adalah mekanisme kontrol sosial dan ekologis yang tertanam dalam sistem medis.
Sakit yang timbul karena "kualat" terhadap tempat keramat, hari suci, atau benda pusaka.
Diagnosa Berbasis Hari (Wewaran) :
-
- Wraspati Paing :
Jika sakit muncul mendadak pada hari ini, diagnosanya adalah Pemali di Perut.
Gejalanya berupa sakit perut melilit, muntah, atau diare hebat tanpa sebab makanan. Ini menandakan gangguan pada Bhatara yang bersemayam di organ pencernaan (Brahma di hati, Wisnu di empedu).
- Wraspati Umanis :
Jika sakit muncul pada hari ini, diagnosanya adalah Pemali di Perumahan.
Gejalanya adalah suasana rumah yang panas, penghuni sering bertengkar, dan sakit yang bergantian antar anggota keluarga.
- Kajeng Kliwon :
Hari pertemuan energi Kajeng dan Kliwon dianggap sangat keramat.
Sakit yang muncul pada hari ini seringkali dianggap sebagai teguran keras dari Renacana (penjaga alam gaib).
Pengobatan Pemali (Usada Tiwang Pemali) :
-
- Bahan : Kulit pohon Pangi (kuning), Lengkuas (Isen), Isidrong, Kapur Bubuk.
- Metode : Bahan-bahan ini dilumatkan menjadi boreh (lulur) dan dibalurkan pada bagian yang sakit. Secara simbolis, kapur (putih/suci) dan lengkuas (panas) berfungsi menetralkan energi negatif pemali.
2. Karang Angker : Geopati dan Feng Shui Bali
Kesehatan penghuni rumah sangat bergantung pada Taksu (energi spiritual) dari tanah tempat mereka tinggal. Karang Angker adalah istilah untuk tanah pekarangan yang memiliki cacat energi atau dihuni oleh entitas negatif.
Indikator Klinis & Tenung :
Seperti disebutkan, pasien sering mengelus dada atau bahu. Penyakit yang ditimbulkan seringkali bersifat kronis, degeneratif, atau psikosomatis (cemas, mimpi buruk).
Jenis-Jenis Karang Berbahaya (Asta Kosala Kosali) :
-
- Karang Numbak Rurung :
Posisi rumah yang berhadapan langsung dengan jalan (tusuk sate). Arus energi jalan yang keras menusuk langsung ke dalam rumah, menyebabkan penghuni sering sakit-sakitan atau kecelakaan.
- Karang Sandang Lawe :
Pintu gerbang (angkul-angkul) segaris lurus dengan pintu rumah dan pintu belakang. Energi rejeki dan kesehatan masuk dan langsung keluar tanpa tersimpan.
- Karang Buntu :
Tanah di ujung jalan buntu, tempat berkumpulnya energi stagnan.
- Rumah Tanpa Penyengker :
Rumah tanpa tembok pembatas. Ini dianggap telanjang secara niskala, memudahkan Bhuta Kala atau ilmu hitam (Teluh) masuk tanpa hambatan.
Solusi Ritual (Mecaru) :
Pada Hari Radite Wage (Minggu Wage) : Jika diagnosa mengarah ke karang angker, disarankan melakukan Caru Ayam Hitam dengan Tumpeng Sari Genap. Doa ditujukan kepada Sang Hyang Wisnu Kala untuk "menyiram" atau mendinginkan tanah yang panas.
3. Penyakit Kiriman : Desti, Teluh, Taranjana
Ini adalah kategori penyakit yang paling ditakuti, hasil dari praktik Pangiwa (ilmu kiri) atau sorcery.
- Desti : Serangan energi yang bermanifestasi menjadi penyakit organ dalam. Seringkali pasien merasakan sakit berpindah-pindah, atau ada benda asing (paku, rambut) yang muncul secara gaib di dalam tubuh.
- Teluh : Serangan yang terlihat sebagai bola api atau cahaya yang jatuh di atap rumah korban. Gejalanya adalah demam tinggi mendadak di malam hari dan lemas total di pagi hari.
- Taranjana : Serangan menggunakan media angin. Korban bisa mengalami kelumpuhan mendadak atau gangguan jiwa (Bebai) tanpa pemicu fisik.
Metode Diagnosa Niskala :
Balian sering menggunakan media telur ayam kampung atau air dalam mangkuk (balian nadas) untuk melihat bayangan pelaku atau jenis serangan. Jika air berubah keruh atau telur berisi darah, positif terkena kiriman.
Pengobatan Metoda Wariga
Sistem Wariga (Kalender Bali) adalah tulang punggung dari diagnosa dan terapi Usada. Ini adalah bentuk chrono-medicine (pengobatan berbasis waktu) yang sangat canggih. Para leluhur Bali menyadari bahwa tubuh manusia memiliki ritme biologis yang selaras dengan siklus alam. Obat yang diminum pada waktu yang salah mungkin tidak efektif, atau bahkan menjadi racun.
Siklus waktu di Bali terdiri dari pertemuan antara Saptawara (siklus 7 hari : Redite-Saniscara) dan Pancawara (siklus 5 hari : Umanis-Kliwon). Pertemuan ini menghasilkan siklus 35 hari (Selapan) yang menentukan karakter energi hari tersebut.
Saptawara (Pengaruh Planet) :
-
- Redite (Minggu - Surya) : Panas, Kepala.
Penyakit yang muncul cenderung berhubungan dengan sakit kepala, mata, dan demam.
- Soma (Senin - Candra) : Dingin, Perut.
Penyakit berhubungan dengan pencernaan, cairan tubuh, dan kedinginan.
- Anggara (Selasa - Anggaraka/Mars) : Api, Darah.
Penyakit infeksi, luka terbuka, dan emosi tak terkendali.
- Buda (Rabu - Budha/Merkurius) : Saraf, Pikir.
Gangguan saraf dan pikiran.
Pancawara (Pengaruh Posisi/Elemen) :
-
- Umanis (Timur) : Udara.
- Paing (Selatan) : Api.
- Pon (Barat) : Logam/Tanah.
- Wage (Utara) : Air.
- Kliwon (Tengah) : Eter/Pusat.
Diagnosa Kombinasi (Contoh) :
Jika seseorang sakit pada hari Anggara Paing, ini adalah pertemuan "Api" (Anggara) dengan "Api" (Paing).
Diagnosanya adalah Panas Berlebih (High Fever atau Radang Akut).
Obatnya harus bersifat ekstra "Dingin" (Tis).
Sebaliknya, sakit pada Soma Wage (Air bertemu Air) mungkin berupa pembengkakan (edema) atau reumatik berat yang membutuhkan obat "Panas" (Anget).
Tamba untuk Pengobatan 30 Wuku
Salah satu kontribusi terpenting pembahasan ini adalah rincian resep obat (Tamba) berdasarkan siklus 30 Wuku. Setiap minggu dalam siklus Wuku memiliki tanaman totem (Taru) yang dipercaya memiliki khasiat maksimal pada periode tersebut.
Berikut adalah rekonstruksi lengkap berdasarkan Usada Siddhi dan Usada Gede :
Wuku Sinta - Gumbreg
- Wuku Sinta (Dewa Yamadipati) :
- Tanaman : Kulit Pohon Majagau (Dysoxylum densiflorum).
- Cara : Kulit diasah di batu, campur madu.
- Khasiat : Penenang, pendingin tubuh, penyucian awal (Majagau adalah kayu suci).
- Wuku Landep (Dewa Mahadewa) :
- Tanaman : Temu Tis (Curcuma purpurascens).
- Cara : Parut, peras, campur garam.
- Khasiat : Melancarkan darah, mengobati kekakuan (Landep = tajam/menusuk).
- Wuku Ukir (Dewa Mahayekti) :
- Tanaman : Bunga Sandat (Cananga odorata).
- Cara : Remas dalam air matang.
- Khasiat : Relaksasi saraf, mengatasi insomnia, menstabilkan emosi.
- Wuku Kulantir (Dewa Langsur) :
- Tanaman : Kayu Manis + Jeruk Nipis.
- Cara : Serut kayu, campur perasan jeruk.
- Khasiat : Menghangatkan pencernaan, obat nyeri lambung (maag).
- Wuku Tolu (Dewa Bayu) :
- Tanaman : Daun Tolu + Bawang Merah.
- Cara : Tumbuk halus sebagai boreh.
- Khasiat : Obat sesak nafas (asma) dan masuk angin (Tolu dikuasai Bayu/Angin).
- Wuku Gumbreg (Dewa Candra) :
- Tanaman : Akar Kelapa Hijau Muda (Bungkak).
- Cara : Rebus akar, minum airnya.
- Khasiat : Detoksifikasi saluran kemih, pembersih ginjal (Gumbreg = hewan/alam).
Wuku Wariga - Kuningan
- Wuku Wariga (Dewa Asmara) :
- Tanaman : Sirih Temu Rose + Kencur.
- Cara : Kunyah (simbuh) semburkan ke dahi.
- Khasiat : Sakit kepala, migrain, pusing.
- Wuku Warigadean (Dewa Penyarikan) :
- Tanaman : Kulit Pohon Dadap (Erythrina variegata).
- Cara : Peras cairan kulit, campur air kelapa.
- Khasiat : Penurun panas demam paling ampuh (antipiretik).
- Wuku Julungwangi (Dewa Sambu) :
- Tanaman : Kayu Cendana.
- Cara : Asah, minum airnya.
- Khasiat : Antiseptik dalam, pengharum nafas/badan.
- Wuku Sungsang (Dewa Gana) :
- Tanaman : Daun Sungsang (Gloriosa superba).
- Cara : Kompres hangat.
- Khasiat : Bengkak, memar, kelainan posisi (sungsang).
- Wuku Dungulan (Dewa Kamajaya) :
- Tanaman : Rotan Muda (Penjalin).
- Cara : Ambil sari ujung rotan.
- Khasiat : Penguat otot, stamina (persiapan Galungan).
- Wuku Kuningan (Dewa Indra) :
- Tanaman : Kunyit (Curcuma longa) + Asam.
- Cara : Jamu kunyit asam.
- Khasiat : Antibiotik, pembersih luka dalam, anti-inflamasi.
Wuku Langkir - Pahang
- Wuku Langkir (Dewa Kala) :
- Tanaman : Kulit Pule (Alstonia scholaris).
- Cara : Rebus (sangat pahit).
- Khasiat : Obat demam malaria, pembersih darah kotor.
- Wuku Medangsia (Dewa Brahma) :
- Tanaman : Padi (Menir/Beras Merah).
- Cara : Tumbuk jadi bedak dingin.
- Khasiat : Pendingin kulit, alergi.
- Wuku Pujut (Dewa Guritna) :
- Tanaman : Akar Alang-alang + Kumis Kucing.
- Cara : Rebus.
- Khasiat : Peluruh kencing, panas dalam.
- Wuku Pahang (Dewa Tantra) :
- Tanaman : Daun Pohon Pahang (Ficus sp.).
- Cara : Bakar, peras airnya.
- Khasiat : Pembekuan darah luka luar (hemostasis).
Wuku Krulut - Watugunung
- Wuku Krulut (Dewa Wisnu) : Tanaman Lulut (obat persendian).
- Wuku Merakih (Dewa Surenggana) : Bunga Teratai (penenang jantung).
- Wuku Tambir (Dewa Siwa) : Jahe Emprit (tolak angin).
- Wuku Medangkungan (Dewa Basuki) : Tebu Hitam (batuk, pereda tenggorokan).
- Wuku Matal (Dewa Sakri) : Daun Beringin Muda (diare).
- Wuku Uye (Dewa Kuwera) : Asam Jawa Tua (sakit gigi).
- Wuku Menail (Dewa Citra) : Daun Sembung (nyeri haid).
- Wuku Prangbakat (Dewa Bisma) : Akar Nagasari (kelelahan kronis).
- Wuku Bala (Dewa Durga) : Kulit Kepuh (penyakit kulit berat).
- Wuku Ugu (Dewa Singajalma) : Daun Jambu Biji (diare akut).
- Wuku Wayang (Dewa Sri) : Bunga Melati (cuci mata, pendingin).
- Wuku Kulawu (Dewa Sadana) : Biji Jali/Jagung (bubur lambung).
- Wuku Dukut (Dewa Baruna) : Rumput Lepas (saluran kemih).
- Wuku Watugunung (Dewa Anantaboga) :
Tanaman : Batu Asahan + Merica Bolong.
Filosofi : Simbol penutup dan pengunci kesembuhan.
Daftar ini menunjukkan bahwa apotek hidup masyarakat Bali diselaraskan dengan kalender. Setiap minggu menawarkan solusi herbal yang berbeda, mengajarkan manusia untuk mengenali keragaman flora seiring berjalannya waktu.
Farmakologi, Teknik Pengolahan, dan Ritual Tamba
Usada tidak hanya soal bahan apa yang dipakai, tetapi bagaimana bahan itu diperlakukan. Tanaman dianggap memiliki "jiwa" (Bayu), sehingga pengambilannya memerlukan etika ritual.
1. Klasifikasi Tanaman Obat Panas-Dingin
Sama seperti Traditional Chinese Medicine (TCM) dan Ayurveda, Usada mengklasifikasikan herbal berdasarkan sifat termalnya :
- Tanaman Panas (Anget) :
Diasosiasikan dengan Dewa Brahma.
Contoh : Jahe, Lengkuas, Lada, Bawang Merah, Cengkeh.
Digunakan untuk mengobati penyakit "Dingin" (masuk angin, kembung, reumatik, lumpuh).
- Tanaman Dingin (Tis) :
Diasosiasikan dengan Dewa Wisnu.
Contoh : Dadap, Kayu Manis (daun), Kelapa Muda, Cendana, Kembang Sepatu.
Digunakan untuk penyakit "Panas" (demam, radang, infeksi, mata merah).
- Tanaman Dum (Netral/Sejuk) :
Diasosiasikan dengan Dewa Iswara.
Contoh : Temulawak, Kunyit.
Berfungsi sebagai penyeimbang (balancer) atau tonikum umum.
2. Jenis Olahan Obat
Balian mengolah bahan mentah menjadi beberapa bentuk sediaan farmasi yang canggih :
- Loloh (Jamu Cair) :
- Ekstrak segar tanaman yang diremas atau ditumbuk, kemudian dicampur air matang, garam, dan kadang jeruk nipis. Tidak selalu direbus agar enzim tanaman tidak rusak.
- Indikasi : Penyakit organ dalam (pencernaan, pernafasan, peredaran darah).
- Boreh (Lulur/Param) :
- Campuran rempah-rempah yang menghangatkan (jahe, kencur, beras kencur) yang ditumbuk kasar atau halus.
- Indikasi : Penyakit otot, tulang, persendian, dan gangguan sirkulasi perifer. Boreh juga memiliki fungsi ritual untuk melindungi tubuh dari gangguan niskala.
- Simbuh (Kunyah Sembur) :
- Balian mengunyah bahan obat (biasanya kombinasi sirih, pinang, dan rempah "mesui") bersama mantra. Campuran saliva, zat aktif tanaman, dan "prana" Balian disemburkan ke bagian yang sakit.
- Mekanisme : Saliva bersifat alkali dan mengandung enzim yang membantu aktivasi zat kimia tanaman. Semburan memberikan efek kejut (shock therapy) lokal pada saraf.
- Oles / Minyak Tanusan :
- Ekstrak tanaman yang dimasak dalam basis minyak kelapa murni (Minyak Tandusan).
- Indikasi : Luka terbuka, gatal-gatal, urut, dan patah tulang.
3. Etika dan Ritual Pengambilan Obat
Sebelum memetik daun atau mengupas kulit pohon, Balian harus melakukan Ngaturang Pejati atau Segehan (persembahan kecil) di pohon tersebut. Mantra diucapkan untuk meminta izin kepada roh penjaga pohon.
- Aturan Waktu : Daun untuk obat biasanya dipetik sebelum matahari terbit penuh (saat fotosintesis belum maksimal dan energi tanaman masih tersimpan di daun) atau saat Kajeng Kliwon untuk kekuatan magis.
- Pantangan : Wanita yang sedang menstruasi dilarang memetik tanaman obat suci karena dianggap cuntaka (tidak suci) yang bisa menetralkan khasiat obat.
Protokol Penanganan Penyakit Spesifik
Bagian ini menyajikan protokol penanganan konkret yang diambil dari naskah Usada untuk beberapa penyakit umum yang memiliki dimensi medis dan niskala.
1. Penanganan "Cekehan" (Batuk Menahun / TBC)
Penyakit "Cekehan" digambarkan sebagai batuk kering yang tak kunjung sembuh, dada sesak, dan tubuh mengurus. Ini mirip dengan gejala Tuberkulosis atau Bronkitis Kronis.
Diagnosa Niskala : Seringkali dikaitkan dengan gangguan di Siwadwara (ubun-ubun/kepala) atau pengaruh angin jahat (Angin saking Kelod).
Resep Herbal (Tamba) :
-
- Bahan Utama : Daun Pohon Kemuning (Murraya paniculata), Rimpang Temu Tis, dan Daun Sembung Gantung (Blumea balsamifera).
- Pengolahan : Bahan direbus dengan air bersih hingga mendidih, saring.
- Aturan Pakai : Diminum hangat pagi dan sore. Sembung dikenal memiliki efek bronkodilator (pelega nafas) dan ekspektoran (pengencer dahak).
Mantra Pendukung :
"Akasa, meda Sanghyang Widiadari, kedep anjenengin sedahan tamba..."
– memohon kekuatan bidadari langit untuk membersihkan paru-paru.
2. Penanganan "Busung" (Dropsy / Ascites / Perut Membengkak)
Penyakit "Busung" ditandai dengan perut yang membesar, keras, kulit perut mengkilap, sementara anggota tubuh lain mengecil.
Diagnosa Niskala : Sangat sering didiagnosa sebagai akibat Cetik (racun magis) atau Pemali di perut.
Resep Herbal :
-
- Bahan : Kulit Pohon Pule (Alstonia scholaris), Ketumbar, Babolong (Merica Bolong/Cabe Jawa), Kelapa yang dipanggang.
- Pengolahan : Semua bahan dilumatkan/ditumbuk halus. Dicampur dengan air Ketan Gajih.
- Aplikasi : Sebagian diminum, ampasnya dibalurkan (sembur) pada perut dan ulu hati. Pule memiliki alkaloid yang kuat untuk mengatasi gangguan hati dan demam.
3. Protokol Penanganan "Tiwang" (Kejang / Convulsions)
Tiwang adalah istilah umum untuk nyeri tajam yang disertai kejang otot, kram, atau kolik. Ada banyak jenis Tiwang (Tiwang Bangke, Tiwang Jaran, dll).
Resep Herbal (Tiwang Pemali) :
-
- Bahan : Kulit pohon Pangi (yang berwarna kuning), Lengkuas, Isidrong.
- Aplikasi : Dijadikan boreh (lulur panas) untuk melemaskan otot yang kaku. Efek panas dari lengkuas dan isidrong melawan energi "dingin" dari kejang tersebut.
‹ Kembali